Monday, November 13, 2017

AGEN RAHASIA di Bis Kota

"Ayo cepat" Tini menarik tangan Elin dengan kencang sehingga Elin terseok seok mengikuti langkah sohibnya itu. Mereka berdua sedang berada di tengah kemacetan di Jl. Rasuna Said Jakarta. Ini pelajaran baru bagi Elin: naik bis kota di Jakarta. Dia sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan nasional yang  bonafid. Besok hari pertamanya bekerja dan hari ini, Minggu, Tini mengajari teman satu kampusnya itu naik bis kota. Hup!! Akhirnya kaki Elin menjejak di pintu bis kota.

"Masuk, masuk! Ke tengah ke tengah. Kosong!" kernet bis kota menekan punggung Elin dengan tanggannya yang sedang menggenggam segepok  rupiah lusuh. Terpaksa kedua wanita muda itu merangsek ke tengah. Bukan untuk mencari tempat duduk tetapi untuk mencari tempat berdiri!

Apa boleh buat yang diketahui Tini saat ini barulah jalur bis kota non AC. Entah dari mana ke mana jalur bis kota AC dari tempat kos Elin saat ini. Jika oada akhirnya perjalanan naik bis kota ini lebih banyak ruginya dari segi biaya dan waktu, lebih baik Elin kos di sekitar Jalan Rasuna Said saja. Tetapi biaya kos di daerah segitiga emas itu kan selangit? Jauh panggang dari api untuk ukuran fresh graduate seperti mereka berdua.

"Harta tidak dibawa mati! Seribu dua ribu, apalah artinya bagi Anda!". Tiba tiba ada suara cepreng yang dibuat serak serak becek eh, basah meneriakkan kalimat motivasi itu.  Kalimat itu betul adanya hanya cara menyampaikan dan penyampainya membuat Elin ternganga.

Tepat di depannya berdiri seorang laki laki tinggi besar, berkulit hitam, berbibir hitam,  berkaca mata hitam, bertopi hitam, dan ini, ini, yang paling membuat Elin bingung, dia memakai baju musim dingin, coat, warna hitam! Dan ini siang hari di Jakarta Bung! Di atas bis kota non AC. Eh, dia mengantisipasinya dengan hanya memakai singlet kumal warna putih tak jelas.

Di belakangnya berdiri seorang laki laki agak kurus, dengan penampilan hampir mirip. Bedanya kacamatanya, ya kacanya,  berwarna kuning dan dia memakai jaket pendek - bukan coat -  berbulu di leher, yang ada penutup kepalanya. Dia menutupi kepalanya yang sudah bertopi dengan hood jaket itu.

Setiap kalimat si kacamata hitam diiyakan oleh si kacamata kuning.
"Ya betul. Ya betul". Perbedaan lain,  suaranya tidak cempreng. Justru bariton.

"Jangan pura pura nggak dengar. Pura pura tuli! Jangan pura pura tidur!" Elin melihat ke penumpang yang duduk di kiri dan kanannya. Hampir semuanya menunduk dalam, dengan kepala lemas. Seorang malah terangguk angguk sesuai dengan irama injakan rem sopir bis kota. Mereka memang benar benar tidur!

"Daripada saya mencopet, lebih baik meminta minta". Si cempreng berteriak lagi.

"Ya betul! Ya betul!" Si bariton menimpali.

Allah Maha Adil, batin Elin. Preman yang berbadan besar berisi diberi suara kecil, cempreng dan melengking. Si kerempeng diberi suara besar, ngebas. Keduanya berkolaborasi dengan fokus utama menampilkan ukuran fisik, bukan kewibawaan suara. Manajemen yang salah, protes  Elin di benaknya.

Bis kota melaju dengan tersendat sendat. Sebaliknya kata kata kedua "morivator" semakin lancar.  Semakin lama, kalimat yang dikeluarkan semakin tajam. "Untuk apa pergi haji. Untuk apa sholat!" Juga banyak pengulangan kata kata. Weleh, tidak kreatif!

"Kiri. Kiri!" tiba tiba Tini berteriak kencang. Lho kok turun di sini? Elin bingung. Bukan begini kesepakatan mereka berdua.

Tini mendorong Elin agar maju, melewati dua peminta minta yang serta merta berhenti berceloteh. Ee...malah si cempreng ikut berkomentar. "Kiri pak sopir!"

Akhirnya keduanya sekarang menginjak trotoar.

"Kenapa kita turun di sini?" Elin mengibaskan jilbabnya, mencari angin untuk lehernya yang sudah basah oleh keringat.

"Itu gara gara agen rahasia CIA". Tini bersungut sungut.

"Siapa?"

"Dua preman tadi. Kan kayak agen rahasia yang di film itu tampilannya. Pakai coat". Ekspresi Tini antara kesal, tetapi juga sedang melucu.

"Jauh banget lah dengan tampilan agen rahasia yang di film. Ha, ha, ha". Serta merta Elin tertawa sambil memegang perutnya. Dia ingat dengan idola Tini, seorang pemain film barat, yang memerankan agen rahasia, yang tampilan pakaiannya  persis dengan si cempreng. Bedanya sang agen rahasia berkulit putih, berpenampilan resik dan tentu saja tampan.

"Hayo kita cari agen rahasia beneran" Keduanya tergelak di siang bolong Jakarta.

Bandung, 05 03 2016
Lisa Tinaria

No comments:

Post a Comment